Konsumsi adalah kegiatan menggunakan atau menghabiskan nilai guna suatu barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya, baik secara perorangan maupun bersama-sama. Pihak atau orang yang melakukan kegiatan konsumsi disebut konsumen. Kegiatan konsumsi dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu konsumsi barang dan konsumsi jasa. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah konsumsi biasa dihubungkan dengan makanan dan minuman yang diperlukan dalam kegiatan tertentu. Contohnya untuk menyelenggarakan kegiatan seminar biasa diadakan seksi konsumsi yang mengurus makanan dan minuman.
perilaku konsumsi
perilaku konsumsi

1. Tujuan Kegiatan Konsumsi

Untuk mempertahankan hidupnya, setiap orang pasti tidak akan terlepas dari kegiatan konsumsi. Dengan demikian, tujuan kegiatan konsumsi adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia secara langsung agar ia dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Setiap penggunaan barang yang bukan untuk tujuan konsumsi tidak dikategorikan sebagai kegiatan konsumsi. Misalnya, kita membeli komputer tetapi untuk direntalkan kepada orang lain, maka itu bukan termasuk kegiatan dan barang konsumsi. Akan tetapi, jika digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri, komputer tersebut merupakan barang konsumsi.

Kemudian, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, setiap orang akan berusaha untuk mencapai kepuasan yang maksimal dan untuk mencapainya, maka setiap orang akan mencari kombinasi atau gabungan terbaik dari barang dan jasa yang akan dikonsumsinya. Tingkat kepuasan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya berbeda-beda bergantung pada berbagai faktor, seperti jenis kelamin, pendidikan, usia, dan pendapatannya. Perbedaan pemenuhan kebutuhan konsumsi seseorang disebut pola perilaku konsumsi.

2. Aspek Positif dan Negatif Perilaku Konsumsi

Dalam melakukan tindakan ekonomi termasuk di dalamnya kegiatan konsumsi. Setiap orang biasanya dikamusi oleh prinsip ekonomi dan motif ekonomi. Misalnya, ketika seseorang biasanya orang akan melakukan kegiatan konsumsi kalau kebutuhan terhadap barang tersebut tidak bisa ditunda.
Perilaku konsumsi seseorang akan memiliki aspek positif dan aspek negatif, sebagai berikut:

1) Aspek positif perilaku konsumtif
  1. Menjaga keberlangsungan siklus ekonomi, baik bagi konsumen maupun produsen. Bagi produsen terdorong untuk membuat produk yang lebih banyak dan lebih baik, sedangkan bagi konsumen dapat memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidupnya.
  2. Menyebabkan kegiatan perekonomian menjadi lebih maju dengan adanya sikap konsumtif yang dilakukan oleh konsumen. Sikap tersebut mendatangkan permintaan yang mendorong pertumbuhan kegiatan perekonomian.
  3. Arus perputaran barang dan jasa menjadi lebih cepat sebagai akibat adanya tindakan konsumsi yang berkelanjutan.
2) Aspek negatif perilaku konsumtif
  1. Dapat menyebabkan seseorang bersikap tidak hemat.
  2. Sikap tidak hemat dapat menyebabkan terjebak utang dan biasanya menjadi kebiasaan jelek yang sulit disembuhkan.
  3. Menurunkan motivasi seseorang untuk menabung, lebih lanjutnya sumber dana untuk investasi yang biasanya bersumber dari tabungan masyarakat di Bank menurun.

3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kegiatan Konsumsi

Kegiatan menggunakan atau menghabiskan nilai guna suatu barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya baik secara perorangan maupun bersama-sama dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut di antaranya sebagai berikut:

1) Pendapatan
Pendapatan biasanya menjadi faktor yang menjadi ukuran kemampuan seseorang dalam mendapatkan berbagai kebutuhan hidupnya. Artinya, semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin besar pula kemampuan orang tersebut untuk mendapatkan barang dan jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat pendapatan seseorang, semakin kecil kemampuan orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Singkatnya bahwa semakin besar pendapatan, semakin besar kemampuan konsumsi seseorang dan sebaliknya.

2) Harga barang
Harga barang biasanya merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku konsumsi seseorang. Dalam hukum permintaan disebutkan bahwa harga dengan permintaan yang mencerminkan tingkat konsumsi seseorang berpengaruh secara negatif. Artinya, semakin tinggi harga, semakin kecil konsumsi, serta sebaliknya jika harga suatu barang murah, konsumsi akan tinggi

Ketentuan di atas biasanya tidak berlaku untuk barang-barang mewah dan untuk orang kaya. Untuk barang mewah dan orang kaya biasanya, terdapat faktor gengsi atau prestise sehingga semakin tinggi harga justru akan diikuti oleh tingginya minat konsumsi.

3) Kebiasaan dan gaya hidup
Kebiasaan dan gaya hidup seseorang akan berpengaruh terhadap tingkat konsumsi seseorang. Contohnya orang yang tinggal di kota dengan yang tinggal di pedesaan akan memiliki kebiasaan dan gaya hidup yang berbeda sehingga tingkat konsumsinya pun akan mengalami perbedaan.

4) Selera
Faktor selera menentukan pilihan dan tingkat konsumsi seseorang. Contohnya, Dian memiliki selera makan buah-buahan yang tinggi sehingga konsumsi atau permintaannya terhadap buah-buahan akan semakin tinggi pula, dan sebaliknya.

4. Barang atau Jasa yang Dikonsumsi Siswa dan Keluarganya

Dalam sebuah keluarga biasanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak atau kalian sebagai siswa. Ketiga individu yang ada dalam suatu keluarga biasanya memiliki kebutuhan konsumsi yang berbeda-berbeda, baik dari segi jenis maupun jumlahnya. Perbedaan kegiatan konsumsi tersebut di antaranya disebabkan oleh adanya perbedaan jenis kelamin, usia, latar belakang pendidikan maupun gaya hidup atau kebiasaan. Sebagai contoh kegiatan konsumsi ayah akan berbeda dengan konsumsi kalian sebagai siswa, baik dari segi jenis maupun jumlahnya. Contohnya, sebagai seorang guru dan sekaligus sebagai kepala keluarga ayah memerlukan sepatu dan perlengkapan kerja lainnya, sedangkan kalian sebagai siswa memerlukan buku, tas, alat tulis, dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Adapun ibu kalian tentunya memerlukan barang atau jasa yang lain seperti alat kecantikan, kerudung, dan sebagainya.

Keluarga merupakan bagian dari rumah tangga ekonomi terkecil yang menciptakan permintaan sejumlah barang atau jasa untuk dikonsumsi. Permintaan tersebut menjadi peluang bagi rumah tangga ekonomi lainya seperti rumah tangga p rodusen yang mendorong kegiatan produksi.