Di Indonesia sering terjadi bencana alam. Misalnya, bencana tsunami Aceh tahun 2004, gempa Nias tahun 2005, dan gempa Yogyakarta tahun 2006. Bencana alam menimbulkan kerugian. Misalnya, korban jiwa dan harta.

Pada materi ini akan dibahas mengenai cara menghadapi bencana alam. Kalian mempelajari gejala alam pada pelajaran IPA. Pengetahuan ini penting kalian pahami. Indonesia termasuk daerah rawan bencana alam. Bertindaklah dengan tepat saat menghadapi bencana alam.

Bencana adalah suatu peristiwa/kejadian yang disebabkan oleh ulah manusia dan alam, yang mengakibatkan penderitaan manusia dan mengganggu kegiatan serta menimbulkan kerusakan harta benda, alam, lingkungan, dan terhambatnya kegiatan masyarakat.

Bencana dapat dibedakan menjadi dua macam, antara lain sebagai berikut;

  1. Bencana akibat perbuatan manusia. Misalnya, seperti kebakaran, kecelakaan, banjir, wabah penyakit, huru-hara, radiasi, kelaparan, dan pencemaran/polusi limbah industri.
  2. Bencana karena gejala alam. Misalnya, gunung meletus, gempa bumi, angin topan, banjir lahar, banjir, kekeringan, tanah longsor, dan hama tanaman.

A. Bencana Kebakaran

Contoh bencana karena ulah manusia adalah kebakaran. Kebakaran merupakan salah satu bencana yang disebabkan oleh ulah manusia yang mengakibatkan penderitaan serta menimbulkan kerusakan.

Kebakaran dapat disebabkan api yang berasal dari kompor, aliran listrik, gas elpiji, kecelakaan lalu lintas, petasan, dan bahan-bahan kimia berbahaya. Bahaya kebakaran terkadang juga terjadi akibat kekurang hati-hatian, ketidaktahuan dan kecerobohan manusia.

Kebakaran dapat menimbulkan kerusakan terhadap jiwa manusia, harta benda, lingkungan, alam, dan terhambatnya kegiatan pemerintahan dan masyarakat.

Kita sering melihat di kota-kota besar, kebakaran melanda rumah penduduk  Peristiwa tersebut menimbulkan kerugian harta benda dan jiwa. Hal itu terjadi karena kelalaian penduduk yang menyebabkan terjadinya kebakaran. Misalnya, kebakaran akibat arus pendek, kompor yang meledak, dan terbakarnya bahan berbahaya.

Karena lingkungan perkotaaan yang padat, maka api segera menjalar menghanguskan wilayah pemukiman. Hal itu diperparah dengan ketiadaan hidran air serta sempitnya jalan menuju pemukiman penduduk sehingga pemadam kebakaran kesulitan memadamkan api.

Kebakaran sering terjadi pada musim kemarau. Udara yang kering dan cuaca panas cepat menyebabkan api menjadi membesar. Selain itu kondisi bangunan yang kering memudahkan menjalarnya api.

Tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk menghindari kebakaran, antara lain sebagai berikut.

1. Kompor harus dijauhkan dengan bahan-bahan yang mudah terbakar.

2. Pastikan kompor harus dimatikan/padam bila tidak terpakai.

3. Hindarkan sambungan kabel secara terbuka;

4. Hindarkan tindakan pencurian aliran listrik;

5. Matikan peralatan listrik apabila tidak dipakai.

6. Matikan semua peralatan listrik saat meninggalkan rumah.

7. Siapkan peralatan pemadam kebakaran di rumah. Upaya dan langkah pemerintah itu tidak akan bermanfaat apabila masyarakat tidak menyadarinya. Langkah-langkah yang harus ditempuh masyarakat sebagai berikut:

  1. Menghentikan kebiasaan membuka hutan untuk dijadikan ladang. Hal ini penting karena saat membuka hutan biasanya penduduk membakar ranting, daun, dan dahan yang bisa menyebabkan kebakaran.
  2. Membiasakan hidup disiplin terutama saat berada di kawasan hutan. Misalnya segera mematikan api atau puntung rokok untuk menghindari kebakaran hutan.
  3. Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kelestarian hutan. Hutan tidak hanya milik kita, tetapi juga bagi anak cucu kita.
  4. Bila menggunakan kompor gas, taruhlah kompor dan tabung gas di tempat yang ventilasinya bagus atau mencukupi agar udara mudah keluar masuk. Sehingga bila terjadi kebocoran, gas akan langsung terbawa angin. Hindari menempatkan kompor gas di dekat barang yang mudah terbakar. Juga, jangan menaruh kompor gas di sebelah kompor minyak. Apabila terpaksa, taruhlah kompor gas sekitar 1-2 meter dari kompor minyak.
  5. Untuk listrik, jangan memasang lampu berlebihan dan jangan menempelkan stop kontak bertumpuk-tumpuk. Pasalnya, kabel akan panas dan meleleh, dan dapat menyebabkan percikan api yang lama-lama bisa menyulut kebakaran.

Itulah beberapa tindakan pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi datangnya bencana alam. Manusia tetap merupakan pelaku utama dalam penyelamatan lingkungan. Hal ini penting karena manusia pula yang terancam keselamatan harta dan jiwanya.

Mencegah bahaya kebakaran sebenarnya gampang, dimulai dari lingkungan di dalam rumah terlebih dahulu. Misalnya, membiasakan untuk memeriksa kompor dan aliran listrik sebelum tidur. Itulah beberapa langkah yang harus kamu ambil saat terjadi bencana kebakaran.

Kita harus tenang saat menghadapi bencana kebakaran. Ketenangan akan membantu kita menyelamatkan diri. Kamu sudah belajar menghadapi sebuah bencana kebakaran. Kita tidak ingin tertimpa bencana kebakaran.

Namun, kita harus siap apabila terjadi kebakaran. Kita berharap setelah mempelajari materi di depan, timbul kesadaran dalam dirimu untuk mencintai lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan menghadapi kebakaran.

B. Bencana Alam

Bencana alam adalah kerusakan alam akibat gejala alam dan perilaku manusia. Gejala alam menyebabkan letusan gunung, gempa bumi, angin ribut, dan tsunami. Perilaku manusia menyebabkan banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan. Cara-cara menghadapi bencana alam harus dipahami. Caranya berbeda-beda. Hal itu disesuaikanpada jenis bencananya.

1. Gempa

Bencana gempa menghancurkan berbagai bangunan. Penyebabnya gerakan tenaga dalam bumi. Gerakan itu menyebabkan kulit bumi bergesekan. Gempa ini disebut gempa tektonik.

Gempa juga ditimbulkan gunung meletus. Penyebabnya magma menyumbat kepundan gunung. Karena gunung tersumbat, permukaan bumi tergetar. Gempa ini disebut gempa vulkanik. Untuk mencatat getaran digunakan seismograf atau seismometer. Satuan mengukur getaran gempa adalah skala Richter.

Gempa Jogja 2006
Kerusakan akibat gempa Yogyakarta tahun 2006

Makin besar skala getarannya, makin besar pula guncangnya. Gempa di atas skala 5 merupakan gempa besar. Gempa itu menyebabkan korban jiwa dan rusaknya harta benda. Pada 27 Mei 2006 terjadi gempa berkekuatan 5,9 skala Richter.

Gempa itu terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Korban tewas 5.500 orang dan ribuan penduduk luka. Banyak rumah hancur. Cara menghadapi gempa, sebagai berikut;

  1. Bersikap tenang dan tidak panik.
  2. Keluar dari rumah menuju ke tempat kosong;
  3. Berlindung di tempat yang terlindung. Misalnya, di kolong meja;
  4. Carilah helm atau bantal untuk melindungi kepala;
  5. Hindari reruntuhan bangunan atau pecahan kaca;
  6. Gunakan tangga darurat untuk keluar dari gedung bertingkat;
  7. Matikan kompor jika terjadi gempa;
  8. Jangan berjalan melewati tebing saat mengungsi;
  9. Pakailah pakaian yang longgar;
  10. Carilah informasi melalui televisi, radio, petugas pemadam kebakaran, dan polisi.
  11. Mengungsi ke tempat lebih tinggi apabila terjadi tsunami.

2. Tsunami

Pada 26 Desember 2004 terjadi gempa disertai tsunami di Pulau Sumatra. Gelombang tsunami menyapu pesisir Sumatra, Malaysia, Thailand, Maladewa, Srilanka, Bangladesh, Kenya, Somalia, Tanzania, dan Myanmar. Korban tewas 300.000 orang. Ratusan ribu lainnya luka. Korban terbesar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang. Artinya gelombang di pelabuhan. Tsunami bisa terjadi karena beberapa sebab. Misalnya, gempa bumi, gunung meletus atau jatuhnya meteor di laut. Tidak semua gempa menimbulkan gelombang tsunami. Gempa menimbulkan patahan di laut. Lalu, timbullah gelombang besar menerjang pantai. Gelombang tsunami bergerak dengan cepat.

Kecepatannya ratusan kilometer per jam. Tinggi gelombangnya mencapai puluhan meter. Gelombang akan menghancurkan pantai dan daerah sekitarnya.

Bencana Tsunami Jepang
Bencana Tsunami Jepang

Tanda tsunami mudah diketahui. Berupa surutnya air laut ke tengah. Jauhnya beberapa puluh meter. Selanjutnya, muncul gelombang pasang ke pantai. Jika tidak dihalangi, tsunami akan menerjang daratan. Penghalang tsunami adalah hutan bakau. Akar pohonnya kokoh dan rapat. Tanaman itu mampu meredam ombak besar. Cara menghadapi bahaya tsunami, sebagai berikut;

  1. Jangan melihat gelombang tsunami secara langsung.
  2. Waspadai gejala air surut jauh ke tengah laut.
  3. Berlindunglah ke tempat paling tinggi.
  4. Bertahanlah hingga air surut
  5. Mengungsilah ke tempat yang lebih tinggi.
  6. Pergilah ke tempat evakuasi korban tsunami.

gambar tsunami

3. Banjir

Bencana banjir disebabkan perilaku manusia. Misalnya, penggundulan hutan, dan pembuangan sampah di sungai. Selain itu, disebabkan hilangnya fungsi peresapan tanah.

Di permukiman tidak terdapat peresapan air. Saat hujan, air mengalir ke sungai. Debit air sungai pun meningkat. Sungai menyempit akibat pembangunan pemukiman. Banyak rumah dibangun di bantaran sungai. Saat hujan, sungai meluap.Banjir juga disebabkan gejala alam. Misalnya, hujan yang berkepanjangan.

Pencegahan banjir dilakukan dengan reboisasi hutan gundul, tidak membuat bangunan di bantaran kali, dan membuang sampah pada tempatnya. Namun, saat banjir, bisa diambil tindakan. Langkah-langkah menghadapi banjir, sebagai berikut;

  1. pindahkanlah perabot ke dalam rumah;
  2. bawalah dokumen-dokumen penting saat mengungsi;
  3. informasikan saat mengungsi kepada para warga;
  4. jangan menyentuh kabel listrik;
  5. segeralah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

4. Angin Ribut

Angin ribut merupakan gejala alam yang sering terjadi di Indonesia. Penyebabnya hembusan angin sangat kuat. Angin tersebut menyebabkan bangunan roboh. Angin ribut kecepatannya di atas 40 knot.

Angin ribut biasa disebut lesus, puting beliung, atau celeret. Angin ribut sulit diramalkan. Oleh karena itu, dilakukan langkah penyelamatan.Tujuannya mengurangi korban jiwa. Langkah-langkah menghindari angin ribut, sebagai berikut:

  1. berlindunglah di ruang bawah tanah jika ada;
  2. berlarilah ke parit sambil merunduk;
  3. jauhilah pepohonan yang mudah tumbang;
  4. berlindunglah di ruangan yang tak berjendela;
  5. berlindunglah di bawah kasur.

Negara yang sering dilanda angin ribut adalah Amerika Serikat. Di Indonesia, angin ribut terjadi saat hujan. Angin ribut terjadi di beberapa daerah. Misalnya, tanggal 15 Februari 2007 di Yogyakarta. Akibatnya, 1.000 rumah roboh dan ribuan penduduk mengungsi. Banyak sarana umum yang rusak.

5. Gunung Meletus

Gunung api meletus karena kepundannya tersumbat. Ketika isi di dalam gunung itu mendesak keluar, sumbat itu menahannya. Semakian lama kekuatan dari dalam gunung membesar. Sumbat di kepundan tidak mampu menahannya. Isi gunung akan menyembur keluar. Gunung akan meletus dengan mengeluarkan lava, abu, dan awan panas.

Lava yang mendingin disebut lahar. Jika hujan dapat terjadi banjir lahar. Banjir lahar menyebabkan kerusakan parah. Letusan gunung berapi menyebabkan kerusakan lingkungan. Misalnya, terbakarnya pepohonan dan tanah pertanian. awan panas menyebabkan korban jiwa. Misalnya, timbulnya awan panas (wedhus gembel) Gunung Merapi di Yogyakarta. Akibatnya, 60 orang meninggal dan ratusan orang luka berat.

Bencana gunung meletus terjadi secara bertahap. Lakukan langkah pencegahan saat bencana. Langkah pencegahan tersebut, antara lain;

  1. carilah informasi gunung meletus melalui televisi, radio, petugas SAR, pemadam kebakaran, dan polisi;
  2. patuhilah perintah mengungsi yang diberikan pemerintah;
  3. bawalah barang-barang pribadi yang penting saat mengungsi. Misalnya, makanan instan, obat-obatan, dan pakaian secukupnya;
  4. matikanlah kompor dan aliran listrik sebelum mengungsi;
  5. periksa pintu dan jendela sebelum mengungsi.

6. Kebakaran Hutan

Bencana kebakaran hutan sering terjadi di Indonesia. Kebakaran hutan terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Kebakaran hutan terjadi pada musim kemarau. Akibat kebakaran hutan adalah kabut asap. Akibatnya daerah sekitarnya tertutup kabut asap.

Kabut asap menganggu kesehatan. Kabut asap menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kabut asap mencemari lingkungan. Kabut asap menggangu pernapasan penduduk. Kabut asap sampai ke negara jiran. Misalnya, penerbangan dan pelayaran di Singapura ditutup karena kabut asap.

Pembakaran terjadi akibat kelalaian dan untuk membuka lahan. Misalnya, untuk lahan kelapa sawit. Kelalaian disebabkan membuang puntung rokok sembarangan di hutan dan membuat api unggun di hutan. Bencana alam yang dapat dicegah adalah kebakaran hutan. Penyebabnya perilaku tidak bertanggung jawab.

Misalnya, membuang puntung rokok di hutan, tidak mematikan api unggun saat berkemah, dan membakar hutan untuk membuka lahan. Pencegahannya harus dilakukan semua pihak.

Langkah ini disesuaikan dengan karakter bencana. Ada beberapa langkah yang harus kamu biasakan:

  1. Apabila kamu sedang berkemah, berhati-hatilah dalam menggunakan api. Tegur orang yang membuang puntung rokok secara sembarangan.
  2. Apabila kamu melihat api di hutan, usahakan untuk memadamkannya.Apabila apinya besar segera beri tahu petugas terdekat agar dipadamkan.
  3. Gunakan masker apabila kamu melewati hutan yang terbakar atau kawasan yang terkena kabut asap. Jangan panik dan patuhi petunjuk pimpinan rombonganmu.

7. Tanah Longsor

Tanah longsor adalah peristiwa pergerakan tanah. Bentuknya longsoran bebatuan atau gumpalan tanah. Daerah rawan longsor memiliki kemiringan tajam. Apalagi tanah tersebut sudah gundul. Akar pohon berfungsi menahan air di dalam tanah. Tanah gundul tidak mampu menyimpan air.

Saat hujan air akan mengalir ke bawah. Aliran air membawa tanah dan bebatuan. Akibatnya tanah akan longsor. Cara pencegahan bencana tanah longsor dilakukan dengan cara melestarikan lingkungan hutan dan lahan.

Penggunaan lahan yang berlebihan dapat menyebabkan tanah longsor. Hal ini biasa dilakukan di daerah pegunungan. Pemanfaatan lahan dengan melakukan pengundulan hutan beresiko menimbulkan tanah longsor. Apabila longsor akan dan sudah terjadi, lakukan langkah berikut;

  1. melapor pada pihak berwenang adanya daerah rawan longsor;
  2. mewaspadai bahaya longsor;
  3. menunggu sebelum menolong korban untuk menghindari longsor susulan;
  4. karena longsor terjadi pada saat yang mendadak, evakuasi penduduk segera dilakukan setelah diketahui tanda-tanda tebing akan longsor;
  5. segera hubungi pihak terkait dan lakukan pemindahan korban dengan hati-hati;
  6. segera lakukan pemindahan penduduk ke tempat yang aman.

Ciri-ciri daerah rawan longsor adalah sebagai berikut;

  1. Daerah berbukit dengan kemiringan lebih dari 20 derajat.
  2. Lapisan tanah tebal di atas lereng.
  3. Sistem tata air dan tata guna lahan yang kurang baik.
  4. Lereng terbuka atau gundul.
  5. Terdapat retakan tapal kuda pada bagian atas tebing.
  6. Banyaknya mata air/rembesan air pada tebing disertai longsoran-longsoran kecil.
  7. Adanya aliran sungai di dasar lereng.
  8. Pembebanan yang berkelebihan pada lereng, seperti adanya bangunan rumah atau sarana lainnya.
  9. Pemotongan tebing untuk pembangunan rumah atau jalan.